header rs. qim

JAM BESUK

PAGI
Jam 10.00 - 13.00 WIB : R. Perawatan
Jam 10.00 - 12.00 WIB : R. HCU
Jam 11.00 - 12.00 WIB : R. Bayi
SORE
Jam 16.30 - 19.30 WIB : R. Perawatan
Jam 17.00 - 18.30 WIB : R. HCU
Jam 17.00 - 18.00 WIB : R. Bayi

KONTAK INFORMASI

Rumah Sakit QIM
Jl.Urip Sumohardjo, Sambong, Batang, Jawa Tengah
Telp : (0285) 4495222
Fax  : (0285) 4495224

RS QIM di FACEBOOK

Beranda Artikel KEPEMIMPINAN
KEPEMIMPINAN PDF Print E-mail
Ditulis oleh Rini Saputro   
Kamis, 23 Februari 2012 08:42

KEPEMIMPINAN
Oleh : Ahmad Yahya


Kepemimpinan (Leadership) merupakan salah satu variabel penting dalam kehidupan suatu bangsa. Dalam masyarakat paternalistik seperti Indonesia, kepemimpinan bahkan menjadi faktor penentu kemajuan atau sebaliknya sebagai biangnya kemunduran. Dalam hal kepemimpinan , berlaku adagium arab “ Annaas alaa diini mulukihim, “ ( rakyat mengikuti agama (moral) penguasanya (pemimpinnnya).
Hakekat kepemimpinan menurut al-Ghozali, adalah pengaruh. Pengaruh ini bisa dilihat dari kedudukan seseorang di mata dan di hati umat (maqoomuka fii quluubinnaas). Tanpa pengaruh, seseorang tidak dapat disebut pemimpin, meskipun ia menyandang dan memangku jabatan tinggi.
Berbeda dengan kepemimpinan secara umum, ide kepemimpinan umat dibangun dan dikembangkan melalui tiga pilar. Pertama, pelayanan yang baik (good services). Pemimpin dalam perspektif ini tidak dipahami sebagai “ penguasa”, tetapi justru sebagai pelayan yang bekerja keras melayanai umat yang dipimpinnya. Mereka rela berpahit – pahit demi kesejahteraan masyarakatnya. Para Nabi dan Rosul Alloh adalah pemimpin – pemimpin yang sejati, karena kedudukan mereka sebagai “penggembala” dalam arti memberikan pelayanan dan pengayoman kepada umat. Mereka rela menderita demi menyebarkan keadilan dalam masyarakat.
Kedua, komunikasi dan kedekatan dengan umat. Seorang pemimpin harus mampu membina hubungan yang harmonis dengan umat, jangan sampai ada gap (jarak) antara keduanya.
Komunikasi yang terjalin baik antara pemimpin dengan umat, berpotensi memunculkan perubahan – perubahan besar yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya, kebekuan komunikasi, akan memicu rasa masa bodoh umat terhadap pemimpinnya. Komunikasi juga mampu menjembatani perbedaan – perbedaan antara pemimpin  dan umat, permasalahan yang muncul dapat segera ditanggulangi, seandainya komunikasi dapat terbina dengan baik. Berbagai masalah yang muncul belakangan ini seperti maraknya paham dan aliran sesat, radikalisasi agama maupun paham terorisme, juga kerusuhan – kerusuhan yang timbul di masyarakat, salah satu penyebabnya adalah mandegnya komunikasi antara pemimpin dengan rakyatnya, atau pemimpin kurang tanggap dengan  kondisi umat. Oleh sebab itu seorang pemimpin harus memiliki sifat “tabligh” mampu berkomuniksi dengan yang dipimpinnya. Para Nabi dan Rosul , seperti Nabi Musa AS sebagaimana diceritakan dalam Alquran, berdoa kepada Alloh agar kata – kata  (pikiran)nya bisa dimengerti oleh kaumnya. (QS. Thoha 25 – 28). Nabi Ibrahim AS malah meminta agar menjadi komunikator yang efektif (lisaana Sidqin) yang kata –katanya abadi, tetap berpengaruh bagi orang –orang kemudian (QS. Assyuaro 84). Ini berarti, Nabi Ibrohim tidak hanya menjadi pemimpin besar (great leader) tetapi juga seorang komunikator besar (great communicator). Begitu pentingnya komunikasi bagi seorang pemimpin . Sebaiknya, jangan mimpi menjadi pemimpin kalau tidak punya keluwesan dalam berkomunikasi, sebab rakyat nanti yang menjadi korbannya.
Ketiga, keteladanan (qudwah dan uswah khasanah) yang dalam bahasa sekarang “ lead by example”. Keteladanan adalah kekuatan yang berpengaruh besar terhadap berhasil dan tidaknya sebuah kepemimpinan. Pandai bicara saja tidaklah cukup, harus disertai contoh – contoh baik ( keteladanan).Keteladanan merupakan wujud bersatunya antara kata dan perbuatan. Bagaimana jadinya seorang pemimpin yang pandai beretorika tetapi tidak disertai dengan tindakan nyata untuk membuktikannya kepada masyarakat. Keteladanan  supaya berjalan secara alamiah, artinya bergerak dari dalam ke luar (inside out), bukan sebaliknya, dipaksakan dari luar ke dalam (out side in). Gambaran ini berarti seorang pemimpin mampu memberikan keteladanan dan mesyarakat dengan antusias dan sukarela mau mencontoh dan mengikuti sang pemimpin. Sehingga terbentuk suasana saling mendukung, saling mengisi ,saling membangun antara pemimpin dan rakyatnya.
Para Nabi dan Rosul, lebih – lebih Nabi Muhammad SAW adalah sumber keteladanan yang patut ditiru, yang bila kita mau mengambil apa – apa yang telah dicontohkannya dalam memimpin umat ,maka akan tercipta keharmonisan dan keberhasilan dalam memimpin  masyarakat. “ Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya   (HR. Bukhori).”
Hadis ini tidak hanya menegaskan pentingnya kepemimpinan, seperti umumnya yang dipahami, tetapi juga mengajarkan bahwa kepemimpinan harus tumbuh dari dalam, dengan latihan untuk bisa menjadi pemimpin atas diri kita sendiri. Karena, seorang tidak akan bisa memimpin orang lain, apalagi memimpin bangsa, jika memimpin dirinya sendiri saja tidak mampu. Juga hadis ini mendorong kita agar tidak hanya menjadi manajer, tetapi juga menjadi leader. Dalam kepemimpinan umat, leader jauh lebih penting dan diperlukan ketimbang hanya sebatas manajer.

Wallohu a’lam  bisshowab.

 

Pendaftaran Sipenmaru

You must have the Adobe Flash Player installed to view this player.

GALERI FOTO

POLLING

Bagaimana menurut Anda tentang Rumah Sakit QIM batang, mulai dari pelayanan, fasilitas, penunjang, tarif dan lingkungan RS. QIM ?