header rs. qim

JAM BESUK

PAGI
Jam 10.00 - 13.00 WIB : R. Perawatan
Jam 10.00 - 12.00 WIB : R. HCU
Jam 11.00 - 12.00 WIB : R. Bayi
SORE
Jam 16.30 - 19.30 WIB : R. Perawatan
Jam 17.00 - 18.30 WIB : R. HCU
Jam 17.00 - 18.00 WIB : R. Bayi

KONTAK INFORMASI

Rumah Sakit QIM
Jl.Urip Sumohardjo, Sambong, Batang, Jawa Tengah
Telp : (0285) 4495222
Fax  : (0285) 4495224

RS QIM di FACEBOOK

Beranda Artikel KUASAI DUNIA JANGAN CINTAI
KUASAI DUNIA JANGAN CINTAI PDF Print E-mail
Ditulis oleh Rini Saputro   
Senin, 12 Maret 2012 01:34

KUASAI DUNIA JANGAN CINTAI

Oleh : Ahmad Yahya

Kuasai, jangan dicintai. Demikianlah kiranya umat Islam memperlakukan dunia dan seisinya. Sebab, bagi seorang muslim, dunia dan segala kenikmatannya bukanlah tujuan satu-satunya dalam hidupnya, ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu “ridho Allah”. Kehidupan yang dibarengi dengan ridho Allah, dipastikan akan menemukan keserasian, keseimbangan antara dunia dan akhirat, hubungan vertikal dengan Tuhannya dan hubungan horizontal antara sesama mahkluk. Islam bukanlah ajaran yang mendikotomikan antara dunia dan akhirat, tetapi bersifat mensinergikan antara keduanya. Dunia ( kebutuhan dunia ) perlu dicari, akhirat ( ahlak, sepiritual ) juga jangan sampai diabaikan. Pincang salah satunya, berarti mengabaikan spirit Islam. Islam tidak mengajarkan orang harus meluluberibadah ritual semata, melupakan ihwal dunianya. Juga Islam mencela terhadap perilaku hanya condong terhadap dunia belaka. Justru Islam mendorong, menyemangati pemeluknya untuk tampil ke gelanggang ,mengatur dunia ( menguasainya ) dengan berpedoman kepada aturan-aturan Allah ( Syariah ). Seperti itulah yang telah dicontohkan oleh Rosulluaalah SAW dan diteruskan oleh para sahabatnya, sehingga mereka mampu tampil sebagai umat yang diteladani, tidak hanya oleh muslim saja, bahkan oleh bangsa-bangsa non muslim.

Seperti kita ketahui, dalam perjalanan sejarah peradaban umat manusia, sejak diutusnya Muhammad menjadi Rosul, umat manusia mulai tercerahkan setelah sebelumnya sempat terjerumus dalam kegelapan yang cukup lama. Dengan kepemimpinan Muhammad SAW, tempo dulu umat Islam tampil menjadi sebuah bangsa besar, berwibawa, mampu mengembangkan diri, hampir semua sektor kehidupan dikuasai oleh umat Islam. Sebut saja misalnya sektor ekonomi, yang dizaman moderen ini menduduki posisi sangat vital. Beberapa saat setibanya dikota Madinah, Abdurrahman bin Auf ( salah seorang sahabat Rosul ) langsung menuju pasar untuk berniaga didalamnya. Dengan ketekunan dan keuletannya, dalam beberapa tempo yang tidak begitu lama, Abdurarahman bin Auf telah menguasai pasar Madinah yang sebelumnya dikuasai oleh pedagang-pedagang Yahudi. Karena spirit Iman-Islam, Abdurahman bin Auf mampu menjadi pedagang besar kaya raya dan menguasai sektor perekonomian di kota Madinah yang dengan bekal itu, ia mampu berkontribusi harta dalam perjuangan jihad fisabilillah, baik jihad dimedan tempur melawan orang-orang kafir, maupun jihad dilapangan sosial membantu fakir miskin, anak yatim dan pembangunan sarana ibadah. Dengan kekayaan yang dimilikinya, ia selalu dibarisan terdepan dalam melayani kebutuhan umat. Ia pernah menginfakkan hartanya sejumlah 700 ekor unta beserta seluruh muatannya. Dari kisah Abdurrahman bin Auf tadi, seharusnya mampu membangkitkan semangat kewirausahaan dikalangan kita umat Islam, kewirausahaan yang didasari oleh etika Iman-Islam, menjauhi cara-cara liberalis. Diharapkan di zaman ini muncul Abdurahman-Abdurrahman baru yang siap berwirausaha, dan dari hasil usahanya sebagian diinfakkan untuk kepentingan dakwah Islam. Umat Islam sangat mengharapkan bahkan memerlukan usahawan-usahawan tipe Abdurrahman bin Auf, bukan tipe Tsa’labah. Tsa’labah adalah tipe orang yang cinta dunia dan ingin selalu menguasainya. Awalnya, Tsa’labah hidup miskin, kemudian berkat doa Rosulluallah SAW, Ia menjadi usahawan sukses dibidang perternakan. Hewan ternaknya sangat banyak, ia menjadi orang kaya baru. Semula, ketika miskin rajin sholat berjamaaah bersama Rosul. Ketika hartanya bertambah banyak ia melalaikan ibadah bahkan berani menolak membayar zakat. Rupanya Tsa’labah menjadi kufur nikmat dan kehidupannya berakhir tragis.

Beberapa abad sebelum Tsa’labah, tepatnya di zaman nabi Musa AS, hidup seorang saudagar yang sangat kaya raya, Qorun namanya. Kunci-kunci gudang harta kekayaannya saja harus dipikul seekor unta untuk membawanya. Semula Qorun rajin beribadah, ketika usahanya sukses dan ia menjadi kolongmerat di zamannya, ia berubah menjadi angkuh dan sombong, mengingkari Tuhannya. Ia mengklaim bahwa segala apa yang ia dapat dan kumpulkan adalah murni karena kepandaiannya. Allah pun kemudian menenggelamkan Qorun kedalam bumi beserta seluruh harta kekayaannya.

Dunia adalah sarana menuju akhirat. Rosul bersabda, “Ad dun ya maz roatul aakhiroh, Dunia adalah sawah-ladangnya akhirat”. Juga firman Allah, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari ( kenikmatan ) duniawi……. ( QS. Al Qoshos Ayat 77 )

Jadi, muslim yang baik adalah yang mau berusaha untuk urusan dunia demi agama dan akhiratnya. Lihatlah bagaimana Rosululloh SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rosul adalah seorang pebisnis yang jujur. Bisnis dengan kejujuran akan membawa barokah, yaitu berputarnya perekonomian yang dapat membawa manfaaat bagi banyak orang. Pebisnis hitam ( tidak jujur ), selain merugikan diri sendiri juga berpotensi mengganjal tersebarnya barokah.

Seorang muslim dituntut untuk mampu menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dunianya bahagia, tetapi melupakan akhirat adalah tipuan belaka. Akhiratnya bahagia sedangkan dunianya susah, juga kurang tepat, karena nanti menjadi olok-olokkan orang-orang yang tidak suka kepada Islam. Para Nabi terdahulu, mereka juga adalah pribadi-pribadi yang cakap dalam urusan dunia. Nabi Daud ahli metalurgi, Nabi Musa ahli perternakan, Nabi Idris ahli kerajinan, Nabi Nuh ahli pertukangan ( perkapalan ), nabi Isa ahli pengobatan, Nabi Yusuf ahli perekonmian.

Semua ini menunjukkan bahwa umat Islam harus unggul disegala bidang kehidupan dengan tetap menjadikan akhirat sebagai orientasi utama, bukan dunia yang diutamakan, apalagi dikuasai untuk dicintai. Mengambil kata mutiara dari Kholifah Umar bin Khottob RA, “Dunia adalah Wasilah”.Mudah mudahan kita mau dan mampu menggapai kejayaan dunia dan kebahagiaan akhirat…..amin. Wallohu a’lam bisshowab.

 

Pendaftaran Sipenmaru

You must have the Adobe Flash Player installed to view this player.

GALERI FOTO

POLLING

Bagaimana menurut Anda tentang Rumah Sakit QIM batang, mulai dari pelayanan, fasilitas, penunjang, tarif dan lingkungan RS. QIM ?