header rs. qim

JAM BESUK

PAGI
Jam 10.00 - 13.00 WIB : R. Perawatan
Jam 10.00 - 12.00 WIB : R. HCU
Jam 11.00 - 12.00 WIB : R. Bayi
SORE
Jam 16.30 - 19.30 WIB : R. Perawatan
Jam 17.00 - 18.30 WIB : R. HCU
Jam 17.00 - 18.00 WIB : R. Bayi

KONTAK INFORMASI

Rumah Sakit QIM
Jl.Urip Sumohardjo, Sambong, Batang, Jawa Tengah
Telp : (0285) 4495222
Fax  : (0285) 4495224

RS QIM di FACEBOOK

Beranda Artikel Kenalilah Kepribadian Pasangan Anda
Kenalilah Kepribadian Pasangan Anda PDF Print E-mail
Ditulis oleh Tiara Asri Sasmitawati, M.Psi., Psikolog   
Rabu, 11 Januari 2012 08:29

Banyak kasus yang akhir-akhir ini terjadi mengenai topik yang satu ini, sebenarnya apa sih yang menjadi penyebab utama munculnya kasus ini?  Ya kita menikah dengan pilihan kita sendiri tapi kenapa kita seperti membeli kucing dalam karung yang tidak tahu bagaimana karakter kepribadian pasangan kita sendiri. Entah itu sang wanita yang tidak mengetahui karakter pasangannya yang temperamental atau bisa juga sang  pria yang tidak mengetahui karakter pasangannya yang “cerewet” atau cenderung “galak” sehingga memancing sang pria untuk melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT). Ya memang benar selama ini wanita yang menjadi korban, tapi apa benar ini murni kesalahan dari sang pria atau suaminya????  Ketika kita memutuskan untuk menjalani kehidupan rumah tangga, tentunya apapun yang terjadi dalam kehidupan itu adalah tanggungjawab pasangan suami istri itu sendiri, bukan saling menyalahkan satu sama lain. Misalnya ketika terjadi suatu masalah misalnya sang suami mempunyai “WIL” atau Wanita Idaman Lain, lantas tidak semata-mata kita bisa menyalahkan suami  tersebut, kita juga harus melihat apa yang dilakukan sang istri kenapa suami bisa melakukan hal itu. Atau bagaimana karakter kepribadian masing-masing pasangan dalam kehidupan rumah tangga tersebut. Untuk masalah yang satu ini, sebaiknya kita dapat berpikir secara objektif karena sekali lagi apapun masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga bukan hanya kesalahan dari satu pihak tapi kedua belah pihak. Sebenarnya kasus KDRT yang muncul di media, hanya sebagian kecil saja dari kasus-kasus yang ada. Kita atau saya sendiri sebagai seorang professional bertanya-tanya apa yang dapat kita lakukan menghadapi kasus seperti itu, bagi para korban yang tidak mau melapor karena ada ancaman dari pasangan yang menjadi pelaku. Tapi sekali lagi saya sebagai seorang profesional juga berusaha untuk bersikap objektif, tidak semata-mata saya langsung menyalahkan pelaku KDRT, kita lihat terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab pelaku melakukan KDRT pada pasangannya.

Saya mencoba menelaah masalah ini dari dua sudut pandang, pertama dari karakter kepribadian sang suami dan juga istri. Apabila memang pelaku memiliki kelainan seksual atau kelainan jiwa sehingga manifestasinya berupa perilaku menyimpang yaitu melakukan KDRT seharusnya hal itu sudah diketahui sejak masa perkenalan, dan ketika masa itu pasangan sebaiknya benar-benar mengenal karakter kepribadian pasangannya. Bagi mereka yang menikah dengan dijodohkan, tentu para “penjodoh” itu atau misal keluarga yang menjodohkan juga sebaiknya mengenal karakter kepribadian orang yang dijodohkan dengan anak mereka sehingga mereka tidak seperti membeli kucing dalam karung yang artinya tidak tahu apa-apa tentang seseorang yang akan dijodohkan itu. Saya yakin kalau memang pelaku memiliki suatu kelainan menyimpang pasti akan terlihat dari perilaku kesehariannya. Karena saat ini pun sudah tidak sedikit yang menjadi korban kekerasan dalam pacaran. Namun, lagi-lagi entah mengapa para korban yang sudah mengetahui karakter pasangannya seperti ini, juga tidak mau meninggalkan pacarnya, bahkan ada yang sampai memutuskan untuk menikah. Kalau dipikir saat pacaran saja sudah terjadi kekerasan apalagi setelah menikah, entah apa yang terjadi selanjutnya. Saya sendiri kadang bertanya-bertanya ada apa dengan fenomena ini? Dan jawaban para korban adalah karena mereka sudah cinta… CINTA yang sampai mengorbankan diri sendiri untuk disiksa.. Namun di lain pihak selama ini saya juga mengamati bahwa karakter istri yang dominan juga akhirnya memaksa suami yang dalam kondisi tertekan melakukan tindakan di luar batas mereka. Istri yang memiliki karakter kepribadian dominan dan cenderung memberikan perintah kepada suami akan membuat suami merasa tidak dihargai dan dihormati. Akhirnya apa yang terjadi… Suami mencari kebutuhan kasih sayangnya di luar rumah dengan WIL atau ketika mereka sudah merasa sangat tertekan, mereka mampu melakukan tindakan kekerasan kepada pasangan atau istrinya. Inilah mengapa saya katakan, mari kita lihat secara objektif apa yang menyebabkan terjadinya KDRT dalam kehidupan seseorang.

Sudut pandang kedua adalah saya melihat dari bagaimana komunikasi antar pasangan tersebut. Ketika mereka dapat berkomunikasi dengan baik saya berpikir semua masalah akan dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya kekerasan. Misalnya ketika terjadi perbedaan pendapat, suami ingin A, istri ingin B. Ketika pola komunikasi pasangan bagus maka penyelesaian juga akan berakhir dengan baik, namun sebaliknya ketika komunikasi yang terjadi hanya satu arah, akan membuat salah satu pihak tertekan dan hasilnya bisa juga terjadi KDRT.

KDRT sendiri dapat terjadi tidak hanya secara fisik seperti memukul, namun juga secara psikis, biologis, juga ekonomi. Secara psikis atau psikologis menggunakan kata-kata yang mencaci maki atau menyakiti perasaan pasangannya. Atau juga dari sikap yang kurang memperhatikan pasangannya atau cenderung tidak peduli dengan pasangan atau pasangan hanya dijadikan penunggu rumah atau tukang cari uang saja. Secara biologis, ketika pasangan tidak memberikan nafkah biologis kepada pasangannya dalam hal ini kebutuhan kasih sayang dan kebutuhan seksual pasangannya. KDRT secara ekonomi seperti tidak memberikan nafkah kepada pasangannya. Hal ini dapat terjadi suami tidak memberikan nafkah secara materi kepada istri dan anak-anaknya.

Sebenarnya masalah kekerasan dalam rumah tangga atau biasa kita sebut dengan KDRT dapat kita antisipasi apabila sebelum kita memutuskan untuk menikah, kita benar-benar mengenal karakter kepribadian pasangan kita termasuk mengenal kekurangan pasangan kita, dan kita juga dapat menerima kekurangan pasangan kita. Mengapa kita harus terburu-buru untuk memutuskan menikah sedangkan kita sendiri belum mengenal karakter kepribadian pasangan kita? Ok mungkin untuk beberapa orang hal ini tidak menjadi masalah ketika mereka memiliki karakter kepribadian yang “nrimo”, dapat menerima pasangan apapun itu keadaannya. Namun lain hal bagi mereka yang memiliki karakter kepribadian yang banyak menuntut, tanpa mengenal mereka akan sulit untuk menerima pasangan mereka karena tuntutan mereka terhadap pasangannya tentu sangat tinggi.

Pernikahan bukan suatu permainan, yang ketika sudah bosan ya sudah selesai saja. Menurut UU Perkawinan yaitu UU No. 1 Tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang peria dan seorang wanita sebagai suami sitri dengan tujuan membantuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ikatan lahir berarti ikatan yang tampak, yaitu ikatan terkait dengan peraturan-peraturan yang nyata seperti terkait dengan KUA atau Catatan Sipil. Ikatan batin saja tidak cukup, perlu diimbangi dengan ikatan batin. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak tampak secara langsung, merupakan ikatan psikologis. Hal ini memiliki makna yang lebih mendalam dan sangat penting dimiliki oleh anda dan pasangan anda, yaitu adanya :

 

 

  • Rasa saling mencintai dan menyayangi
  • Rasa saling memiliki
  • Rasa saling menghormati dan menghargai
  • Rasa saling percaya
  • Kejujuran
  • Keikhlasan, untuk saling membantu dan mendukung.

 

Dan, yang paling penting adalah … “Dalam Perkawinan, TIDAK boleh ada PAKSAAN".

Diharapkan dengan sedikit penjelasan diatas, bagi pasangan yang akan memutuskan untuk menikah, benar-benar dipertimbangkan ketika mereka memutuskan untuk menikah, apakah mereka sudah benar-benar mengenal dan menerima karakter kepribadian pasangannya. Namun juga diingat sekali kita menikah tidak hanya dengan pasangan kita namun juga dengan keluarga pasangan kita, jadi kita juga harus mengenal karakter kepribadian orangtua pasangan kita dan mengenal karakter kepribadian saudara pasangan kita.

 

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan setelah itu dipersiapkan ketika kita memutuskan akan menikah agar kita dapat mengantisipasi konflik yang akan terjadi nantinya. Saling menerima dan komunikasi merupakan kunci penting dalam suatu hubungan.

 

Last Updated on Rabu, 11 Januari 2012 08:46
 

Pendaftaran Online

Pendaftaran Online

Ketersediaan Kamar

Call Center

Berita Utama

Prev Next

Pendaftaran Sipenmaru

You must have the Adobe Flash Player installed to view this player.

GALERI FOTO

POLLING

Bagaimana menurut Anda tentang Rumah Sakit QIM batang, mulai dari pelayanan, fasilitas, penunjang, tarif dan lingkungan RS. QIM ?