Social Icon Rumah Sakit QIM Batang Social Icon rumahsakitqim Social Icon qimchannel Social Icon rumahsakitqim
(0285) 4495222 Phone 085185006812
Anak Usia Muda Tidak Bisa Terkena Stroke? Jangan Salah!

Sabtu, 04 Juli 2026  | 09:40:36  | Humas

Anak Usia Muda Tidak Bisa Terkena Stroke? Jangan Salah!

?Batang, 04 Juli 2026 - Humas

Stroke Tidak Lagi Identik dengan Lansia

Banyak orang masih menganggap stroke hanya menyerang orang lanjut usia. Faktanya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Saat ini, stroke juga semakin banyak terjadi pada usia produktif, bahkan pada mereka yang berusia 20–45 tahun. 

Dalam tiga dekade terakhir, berbagai penelitian menunjukkan peningkatan kasus stroke pada kelompok usia muda. Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, prevalensi stroke pada penduduk usia di atas 15 tahun terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa siapa pun dapat berisiko mengalami stroke apabila memiliki faktor pemicu tertentu.

Apa Itu Stroke?

Stroke adalah kondisi ketika aliran darah menuju otak terganggu sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi. Akibatnya, fungsi otak dapat terganggu secara tiba-tiba dan menimbulkan gangguan pada kemampuan berbicara, bergerak, berpikir, hingga kesadaran.

Secara umum, stroke dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

a) Stroke Iskemik, yaitu stroke yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah di otak. Jenis ini merupakan jenis stroke yang paling sering terjadi.

b) Stroke Hemoragik, yaitu stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan perdarahan.

Kedua jenis stroke merupakan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin.

Mengapa Stroke Bisa Terjadi pada Usia Muda?

Berbeda dengan lansia yang umumnya dipengaruhi oleh penyakit kronis, stroke pada usia muda lebih sering dipicu oleh gaya hidup serta beberapa kondisi kesehatan tertentu.

1. Gaya Hidup Tidak Sehat

Kebiasaan merokok, mengonsumsi alkohol, hingga penyalahgunaan narkoba dapat meningkatkan risiko stroke. Selain itu, paparan asap rokok sebagai perokok pasif juga tidak kalah berbahaya. Kebiasaan tersebut dapat merusak pembuluh darah, meningkatkan pembekuan darah, dan memicu penyumbatan aliran darah ke otak.

2. Kurang Aktivitas Fisik

Terlalu lama duduk, jarang berolahraga, atau menjalani gaya hidup sedentari dapat meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Oleh karena itu, aktivitas fisik secara rutin menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah.

3. Obesitas

Kelebihan berat badan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, diabetes melitus tipe 2, dan penyakit jantung. Ketiga kondisi tersebut merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke pada usia muda maupun lanjut usia.

4. Kelainan Jantung Bawaan

Sebagian orang terlahir dengan kelainan struktur jantung, seperti Patent Foramen Ovale (PFO), yaitu adanya celah pada sekat jantung yang tidak menutup sempurna setelah lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan terbentuknya bekuan darah yang kemudian mengalir menuju otak dan memicu stroke.

Kenali Gejala Stroke dengan "SeGera Ke RS"

Semakin cepat stroke dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal. Salah satu cara mudah mengenali gejala stroke adalah melalui akronim "SeGera Ke RS", yaitu:

Se : Senyum tidak simetris atau wajah tampak mencong.

Ge : Gerak salah satu sisi tubuh melemah atau sulit digerakkan secara tiba-tiba.

Ra : Bicara pelo, sulit berbicara, atau tidak memahami pembicaraan.

Ke : Kebas atau kesemutan pada salah satu sisi tubuh.

R : Rabun atau penglihatan mendadak terganggu pada satu mata.

S : Sakit kepala hebat yang muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang jelas.

Apabila Anda mengalami satu atau lebih gejala tersebut, jangan menunggu hingga keluhan memburuk. Segera cari pertolongan medis agar mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Stroke Bisa Dicegah

Meskipun tidak semua faktor risiko dapat dihindari, sebagian besar kasus stroke pada usia muda dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti:

1) Berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok.

2) Berolahraga secara rutin minimal 150 menit setiap minggu.

3) Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

4) Menjaga berat badan ideal.

5) Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol.

6) Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki riwayat hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau riwayat stroke dalam keluarga.

Jangan Abaikan Gejalanya, Segera Periksakan Diri!

Stroke merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin. Semakin cepat pasien mendapatkan terapi, semakin besar peluang untuk meminimalkan kerusakan otak, mengurangi risiko kecacatan, serta meningkatkan kualitas hidup.

Apabila Anda atau orang terdekat mengalami tanda-tanda stroke seperti wajah mencong, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, bicara pelo, mati rasa, gangguan penglihatan, atau sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis saraf. Jangan menunda hingga gejala semakin berat.

Poliklinik Saraf Rumah Sakit QIM siap memberikan pelayanan konsultasi, pemeriksaan, diagnosis, serta penanganan berbagai gangguan saraf, termasuk stroke, dengan didukung oleh dokter spesialis saraf yang berpengalaman.

Bagikan artikel ini:


ARTIKEL TERKAIT
WhatsApp